Kisah Kutu dan Rantai Gajah

Kisah 1: Kisah Kutu Anjing
-------------------------------
Jika rekan-rekan ditanya, binatang apa yang paling hebat? Biasa jadi jawabannya adalah seekor kutu anjing. Ya, kutu anjing adalah binatang yang sangat hebat. Apa kehebatannya? Ia bisa meloncat sangat tinggi. Sampai kira-kira 50 kali lipat ukuran tubuhnya. Ck..ck. Subhanallah! Sungguh hebat Maha Pencipta yang menciptakan binatang ini.

Ada sebuah kisah fiksi menarik tentang kutu anjing ini. Suatu ketika anjing meminta tolong pada seekor kelinci. “Wahai kelinci, tolonglah aku. Tolong kau cari, tangkap dan buang kutu anjing di tubuhku ini. Rasanya aku sudah tidak kuat lagi.”

Kelinci pun berusaha sekuat tenaga. Tapi ia sangat sulit menangkap kutu anjing itu. Setiap ia akan menangkapnya, si kutu anjing melompat tinggi. Bahkan lebih tinggi dari kelinci. Keadaan ini membuat kelinci berpikir keras. Akhirnya ia dapat ide. Ia minta serpihan kecil daging dan bulu pada anjing. Lalu, daging dan bulu itu ia masukkan ke sebuah kotak korek api yang terbuka. Rupanya kelinci membuat jebakan untuk kutu anjing tersebut.

Kutu anjing melihat ada sebongkah daging dan bulu anjing, maka ia pun melompat masuk ke dalam kotak korek api itu. Ketika, ia sedang asyik menikmati bulu dan daging anjing itu, kelinci segera menutup penutup kotak korek api itu. Si kutu anjing pun terperangkap. Ia tidak bisa keluar dari tempat yang sempit itu.

Kelinci membiarkan kutu anjing itu beberapa hari. Ia tidak ingin tangkapannya kabur lagi. Setelah beberapa hari, kotak korek api dibuka. Meloncatlah si kutu anjing. Kelinci terkejut. Ia khawatir si kutu anjing akan kabur. Ternyata tidak. Kutu anjing itu sekarang, tidak bisa loncat melebihi tinggi kotak korek api yang beberapa hari ini mengurungnya. Kelinci dengan mudah kembali menangkap si kutu anjing.


Kisah 2: Kisah Rantai Gajah
---------------------------------
Suatu ketika, ada gajah liar yang merusak kampung. Sudah banyak orang yang celaka. Banyak rumah yang rusak. Sawah dan ladang pun demikian pula. Penduduk desa telah berusaha sekuat tenaga menangkap atau membunuh sang gajah. Tapi semua cara yang dilakukan gagal. Mereka kekurangan alat. Mereka hanya mengandalkan senapan angin yang tidak seberapa kekuatannya. Tentu saja, tidak bisa menaklukan sang gajah yang kuat dan besar.

Kebetulan sekali, lewatlah ke kampung itu seorang pemburu dari kota. Penduduk kampung pun meminta pertolongan sang pemburu. Dengan sigap pemburu ini segera memburu sang gajah. Mereka pun bertemu di pinggir kampung.
Sang pemburu sudah siap dengan berbagai alatnya. Ia gunakan senapan besar dengan kekuatan besar. Ia juga gunakan peluru bius yang sangat kuat. Ia yakin, peluru bius itu sanggup membius sang gajah. Beberapa kali tembakan meleset. Sampai pada tembakan kelima, akhirnya sang gajah tertembak. Peluru bius itu pun menancap di tubuh sang gajah. Beberapa saat, sang gajah meronta. Sampai kemudian, ia terjatuh dan pingsan.

Sang pemburu dan penduduk kampung kemudian merantai gajah itu. Rantai yang digunakan besar dan kuat sekali. Penduduk kampung pun lega. Akhirnya masalah besar itu selesai juga. Sang gajah pun bangun. Ketika bangun ia langsung berdiri dan berlari. Ia merasa benar-benar lapar. Tapi kakinya dirantai. Ia pun terjatuh. Ia berdiri lagi, lari lagi. Terjatuh lagi. Begitu terus. Sampai sang gajah lemas. Ketika melihat kesekelilingnya, ternyata ia menemukan sebongkah besar rumput. Ia pun menghampiri rumput itu dan memakannya. Ketika gajah itu kenyang, ia mencoba berlari lagi. Tapi rantai yang mengikatnya sungguh kuat. Ia terjatuh lagi.

Itulah yang terjadi hari-hari berikutnya. Sang gajah terus mencoba berlari, tapi ia terus gagal. Meski begitu, ia tidak kelaparan. Malah makin gemuk saja, karena makanannya bagus dan terjamin. Sang gajah pun berhenti mencoba lari. Setiap hari ia hanya makan saja. Rantai gajah pun diganti. Tidak lagi menggunakan besi yang besar dan kuat. Ia hanya diikat seutas tali plastik. Tapi sang gajah tidak mencoba berlari. Ia telah nyaman pada kondisinya sekarang. Ia tidak lagi liar.
--------------------------------------------------------------------------------

Rekan-rekan TLC,
Apa yang bisa disimpulkan dari dua cerita tadi? Kutu anjing yang tadinya bisa melompat tinggi, menjadi tidak berdaya dan hanya melompat setinggi kotak korek api. Demikian juga dengan sang gajah liar. Semula dibutuhkan rantai besi yang besar dan kuat untuk merantainya. Tapi, kemudian, seutas tali plastik saja tidak dicoba diputuskan oleh sang gajah.

Paling tidak ada tiga pelajaran yang dapat kita petik dari kisah di atas, diantaranya:

1. Setiap mahluk hidup sebenarnya mempunyai potensi yang hebat.

Setiap manusia dilahirkan dengan potensi yang hebat. Potensi hebat yang kita miliki diantaranya ruh, akal, nafsu, otak, fisik dan waktu yang Allah berikan. Nah, keenam potensi ini sama diberikan Allah pada setiap manusia. Perbedaannya terletak pada bagaimana kita menggunakan potensi itu. Orang yang sukses senantiasa memanfaatkan potensi yang ada. Ia yakin dengan kemampuan yang Allah berikan kepadanya.

2. Ada kondisi yang membuat potensi hebat tersebut, justru tidak digunakan. Kondisi tersebut membelenggu dirinya.

Ada banyak kondisi yang bisa membelenggu potensi manusia. Belenggu itu dapat dikelompokkan menjadi dua. PERTAMA, ketakutan & keraguan. KEDUA, belenggu kondisi. Belenggu ketakutan & keraguan adalah belenggu utama. Gajah berhenti berusaha lari karena ia takut jatuh lagi. Jatuh itu menyakitkan. Karena takut, ia belajar merasa nyaman dengan kondisi barunya. Ia pun masuk ke zona nyaman (comfort zone). Setiap kita pasti merasa takut dan ragu melakukan sesuatu yang baru. Hal baru ada di luar zona nyaman kita. Setiap manusia pasti dilanda ketakutan dan keraguan ketika ia melangkah keluar dari zona nyamannya. Belenggu kondisi adalah terbelenggunya potensi karena suatu kondisi. Misalnya kondisi ekonomi, sosial, usia, pendidikan, budaya, lingkungan dan sebagainya.

3. Manusia hebat adalah manusia yang berhasil memutuskan belenggu dalam dirinya sendiri.

Dua belenggu di atas membelenggu potensi. Bagaimana memutuskan belenggu itu? Prinsipnya ada dua. PERTAMA, optimalisasi potensi. KEDUA, pertolongan orang lain. Optimalisasi potensi bersifat internal. Kita harus mampu mengembalikan kepercayaan diri bahwa ada potensi hebat dalam diri ini. Sedangkan, pertolongan orang lain adalah hal dari luar diri kita. Orang yang mampu menjadi motivator dan membantu memutuskan belenggu yang ada.
----------------------------------------------------------------------------------
Rekan-rekan TLC, terkadang di sekeliling kita banyak ditemui orang-orang yang menjadi ‘kotak korek api’ atau ‘rantai gajah’ dalam kehidupan kita. Mereka senantiasa membuat diri kita stagnan (menghambat) dalam beraktifitas dan berbuat lebih. Kita telah merasa ada pada ‘comfort zone’ sehingga terbelenggu pada pekerjaan yang biasa saja, padahal potensi yang kita miliki akan menghasilkan lebih dari itu.

Atau sebaliknya, kita tidak menyadari bahwa kitalah si ‘kotak korek api’ dan ‘rantai gajah’ itu dalam kehidupan orang lain. Kita selalu menjadi orang yang membelenggu kesuksesan orang lain. Naudzubillah. Mari introspeksi diri!.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar